Tampilkan postingan dengan label Tari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tari. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Februari 2016

Kesenian Cirebon Yang Satu Ini Memiliki Nilai Mistis


Cirebonmedia.com- Membahas tentang budaya di Cirebon memang tidak ada habisnya. Kali ini Cirebon Media akan membahas salah satu budaya khas Cirebon yang memiliki nilai mistis di dalamnya.
Sintren.
Sintren adalan kesenian tari tradisional masyarakat Jawa, khususnya di Cirebon. Kesenian ini terkenal di pesisir utara Jawa Barat dan Jawa Tengah, antara lain di Indramayu, Cirebon, Majalengka, Jatibarang, Brebes, Pemalang, Banyumas, Kabupaten Kuningan, dan Pekalongan. Kesenian Sintren dikenal juga dengan nama Lais. Kesenian Sintren dikenal sebagai tarian dengan aroma mistis atau magis yang bersumber dari cerita cinta kasih Sulasih dengan Sulandono.
Kesenian Sintren berasal dari kisah Sulandono sebagai putra Ki Baurekso hasil perkawinannya dengan Dewi Rantamsari. Raden Sulandono memadu kasih dengan Sulasih seorang putri dari Desa Kalisalak, namun hubungan asmara tersebut tidak mendapat restu dari Ki Baurekso, akhirnya R. Sulandono pergi bertapa dan Sulasih memilih menjadi penari. Meskipun demikian pertemuan di antara keduanya masih terus berlangsung melalui alam gaib.
Pertemuan tersebut diatur oleh Dewi Rantamsari yang memasukkan roh bidadari ke tubuh Sulasih, pada saat itu pula R. Sulandono yang sedang bertapa dipanggil oleh roh ibunya untuk menemui Sulasih dan terjadilah pertemuan di antara Sulasih dan R. Sulandono. Sejak saat itulah setiap diadakan pertunjukan sintren sang penari pasti dimasuki roh bidadari oleh pawangnya, dengan catatan bahwa hal tersebut dilakukan apabila sang penari masih dalam keadaan suci /perawan.
IMG_6548
Image By: Cirebon Media/ Bima
Kata Sintren di bangun oleh 2 kata yaitu si dan tren, “si” atau “ia” dan tren atau tri yang berarti “putri”, jadi arti dari sintren adalah “ia putri”, maksud nya yang sebenarnya menari bukan lah si penari sintren, namun roh seorang putri, yaitu sulasih, atau biasa di sebut Rr. Ratnamsari.
Sintren diperankan oleh seorang gadis yang masih suci, dibantu oleh pawang dengan diiringi gending 6 orang. Gadis tersebut kemudian diikat dari leher hingga kaki, kemudian dimasukkan ke dalam kurungan ayam yang berselebung kain. Gamelan terus menggema, dua orang yang disebut sebagai pawang tak henti-hentinya membaca mantra dengan asap kemenyan mengepul. Pawang kemudian berjalan memutari kurungan ayam itu sembari merapalkan mantra memanggil ruh Dewi Lanjar. Jika pemanggilan ruh Dewi Lanjar berhasil, maka ketika kurungan dibuka, sang gadis tersebut sudah terlepas dari ikatan dan berdandan cantik, lalu menari diiringi gending. Juru kawih terus berulang-ulang nembang :
“Gulung gulung kasa
Ana sintren masih turu
Wong nontone buru-buru
Ana sintren masih baru”
Yang artinya menggambarkan kondisi sintren dalam kurungan yang masih dalam keadaan tidur. Namun begitu kurungan dibuka, sang Sintren sudah berganti dengan pakaian yang serba bagus layaknya pakaian yang biasa digunakan untuk menari topeng, ditambah lagi sang Sintren memakai kaca mata hitam. Sintren kemudian menari secara monoton. Namun jika ada orang yang melempar sintren dengan uang, sintren akan terjatuh pingsan. Sintren akan sadar kembali dan menari setelah diberi jampi-jampi oleh pawang.
Namun saat ini tari sintren semakin jarang terlihat karena kurangnya minat masyarakat terhadap kesenian budaya Cirebon. Semoga dengan adanya artikel ini masyarakat lebih mengetahui dan mencintai kesenian daerahnya sendiri yaitu Tari Sintren.

Sumber :

Rabu, 27 Januari 2016

Tari Topeng Beling


Cirebonmedia.com- Cirebon merupakan satu daerah yang terletak di ujung timur Provinsi Jawa Barat. Daerah yang merupakan perbatasan antara Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah ini membuat proses alkulturasi budaya pun terjadi antara dua kultur masyarakat Sunda dan Jawa. Ada salah satu kesenian Cirebon yang merupakan hasil alkulturasi yaituTopeng Beling.
Topeng Beling merupakan salah satu seni tari yang tumbuh dan berkembang di Cirebon tepatnya yaitu di Sanggar Seni Sekar Pandan yang berada di komplek Keraton Kacirebonan. Tari Topeng Beling ini diciptakan oleh Elang Heri Komarahadi pada tahun 1995. Tari Topeng Beling ini merupakan perpaduan dari unsur debus dan tari Topeng Cirebon. Topeng Beling sama seperti tari Topeng Cirebon pada umumnya yaitu mengenakan topeng atau kedok.
IMG_6174
Image By: Cirebon Media/ Bima
Selain itu, Topeng Beling ini juga dipentaskan oleh kaum laki-laki, berbeda dengan tari Topeng Cirebon yang bisa ditarikan oleh penari perempuan. Dimana untuk menarikan Topeng Beling ada beberapa persyaratan yang harus dikuasi oleh penari tersebut yang diantaranya, penari Topeng Beling selain harus menguasai tari Topeng Cirebon itu sendiri dan juga harus menguasai keahlian atraksi debus. Hal ini dikarenakan dalam pertunjukan Topeng Beling terdapat atraksi debusnya yaitu, penari Topeng Beling sesekali menari di atas beling.
Topeng Beling terdiri dari dua kata yaitu Topeng dan Beling. Menurut pendapat umum, istilah kata topeng mengandung pengertian sebagai penutup muka/kedok. Sedangkan “Beling” adalah kata serapan dari bahasa Sunda yang artinya pecahan kaca. Berdasarkan istilah itu, dapat disimpulkan bahwa tari Topeng Beling adalah sebuah tarian yang menggunakan penutup muka (kedok) dan menari di atas pecahan kaca.
Dalam perkembangannya, tari Topeng Beling ini sudah dipentaskan di beberapa tempat diantaranya di Taman Mini Indonesia Indah, Taman Budaya Jakarta, Solo dalam acara FKN, dan Taman Budaya Jawa Barat. Topeng Beling ini juga pernah mendapatkan penghargaan tata tari terbaik se-Jawa Barat, yang akhirnya Topeng Beling ini menjadi salah satu maskot tari Kota Cirebon. Namun, keberadaan Topeng Beling pada saat ini belum diketahui oleh masyarakat luas meskipun Topeng Beling ini sudah menjadi salah satu maskot Jawa Barat.
Sumber :